Mencari Resolusi Dari Ketidakadilan Sistemik Dalam “Empat Musim Pertiwi”



Sekolahnews — Forka Films kali ini menghadirkan pengalaman sinematii yang imersif dengan karya terbaru “Empat Musim Pertiwi”. Menjadi proyek terbesar Forka Films, “Empat Musim Pertiwi” menjadi ko-produksi enam negara, Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi dan Polandia. Film ini juga didukung oleh Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle dan Navvaros.

Lanskap alam Bromo memberikan tekstur visual yang kuat dengan tata busana ala western, yang menjadikan perjalanan seorang perempuan yang baru saja pulang setelah 20 tahun dipenjara seperti sebuah pengembaraan panjang tanpa ujung.

Kisahnya berfokus pada musim-musim dalam hidup Pertiwi (Putri Marino) sambil mengarungi perjalanan panjang untuk bertumbuh dari rasa sakitnya, hingga menemukan rumah dan orang-orang terpinggirkan di kampung halamannya.

Penulis dan sutradara Kamila Andini juga melewati perjalanannya sendiri saat mulai pertama menulis naskah ini pada 2017 dan melewati proses panjang menyelami kompleksitas kisah Pertiwi. “Apa yang terjadi dengan Pertiwi bicara tentang ketidakadilan. Ada trauma-trauma kolektif. Namun dari film ini, dengan mengikuti pertiwi, kita bisa sedikit melihat bagaimana bahkan dengan kerapuhan, seseorang juga bisa menemukan kekuatan-kekuatan atau bahkan menjadi kekuatan untuk orang lain” ujarnya.

Sementara Putri Marino kembali membuktikan dedikasinya untuk film ini dengan tidak mengambil proyek apapun. “Pertiwi ini sebenarnya wanita muda, tapi jiwanya sebenarnya sudah melampaui usianya. Pertiwi telah mengalami banyak hal dalam hidupnya dan salah satu pintu masuk aku adalah dengan membaca buku, untuk memahami apa yang dia rasakan. Pertiwi adalah perempuan yang harus berhadapan dengan masa lalu dan menemukan dirinya. Kepulangan tidak selau berarti menjadi orang yang sama. “

“Empat Musim Pertiwi” juga terpilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Oscar 2027. Tidak hanya itu, film ini juga sudah menemukan tempatnya di peta perfilman internasional, mulai dari penayangan perdana di Toronto International Film Festival, hingga berlanjut ke Tokyo International Film Festival, Singapore International Film Festival dan akan tayang di Busan International Film Festival tanggal 8 Oktober.

“Empat Musim Pertiwi” dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwiak Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, Totos Rasiti, Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Ayub Antoh dan Donikus.

“Empat Musim Pertiwi” akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 8 Oktober 2026.