Krisis Corona: Apakah Kepemimpinan Perempuan Lebih Unggul?

SekolahNews — Berlin, Lebih dekat dengan massa kampanye, tetapi dalam pandemi. Presiden Jair Bolsonaro dari Brasil menganggap lockdown “berlebihan”. Sebagai bukti kekuatan, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengunjungi unit perawatan intensif bagi penderita virus Corona setelah menjabat tangan pasien.

Orang-orang yang bekerja erat dengannya mengatakan dia menganggap penyakit ini sebagai bukti kelemahan. Pada bulan Februari, Presiden Donald Trump mengumumkan penyakit itu akan hilang begitu saja. AS memiliki angka kematian tertinggi. Dan angka tersebut terus meningkat. Tiga pemimpin dunia dituduh tidak kompeten dan semuanya laki-laki.

Wanita memimpin dalam krisis ini. Ada cukup banyak contoh bagaimana konsep ini diterapkan. Tetapi apakah ini revolusi perempuan? Atau apakah kita melihat krisis kompetensi oleh begitu banyak pemimpin pria di seluruh dunia?

Baca juga: Mengenal Sanna Marin, PM Termuda di Dunia

Komunikasi yang jelas, tindakan tegas dan cepat, dan keinginan untuk mendengarkan sains. Hanya beberapa penghargaan yang diterima para pemimpin ini atas penanganan mereka terhadap virus Corona. Dan ya, mereka memiliki satu kesamaan. Mereka semua perempuan.

Ambil contoh Taiwan, belajar dari wabah SARS pada tahun 2003, presiden Tsai Ing Wen menanggapinya lebih cepat daripada pemimpin mana pun di dunia dengan melarang perjalanan dari Tiongkok lebih awal, menerapkan pemeriksaan kesehatan yang ketat dan meningkatkan produksi masker.

Hasilnya, Taiwan telah tercatat memiliki kurang dari 500 kasus sejauh ini. Negara Australia dan Pulau dengan populasi berukuran serupa mengalami jumlah kasus yang sama 10 kali lipatnya.  

Kemudian ada Selandia Baru, pemimpinnya, Jacinda Ardern, telah mengejar kebijakan eliminasi yang ketat. “Saat ini, tingkat penularan kami yang merupakan jumlah kasus yang ditularkan oleh setiap orang dengan virus adalah 0,48, kurang dari 0,5 persen. Sementara di luar negeri rata-rata jumlahnya adalah 2,5 orang. Kami memiliki jumlah kasus terkonfirmasi per 100.000 orang terendah di dunia. ” pernyataan Ardern dalam konferensi pers.

Fitur kunci lain dari respon yang sukses terhadap krisis, tidak bergantung pada pencapaian saja. Setelah mengumumkan pelonggaran lockdown di Jerman, Kanselir Angela Merkel terus menyerukan kewaspadaan. “Kami belum tahu apa konsekuensi pelonggaran lockdown nantinya. Itu sebabnya kita harus bertindak selangkah demi selangkah, perlahan dan hati-hati, ” kata Merkel dalam konferensi pers lain.

Tidak semua pemimpin wanita bisa mengelola krisis dengan baik dan tidak semua pemimpin pria juga sebaliknya .Tetapi bukti awal pandemi ini menunjukkan bahwa dipimpin oleh seorang wanita dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kekayaan suatu negara.

Jennifer Curtin, Direktur Institut Kebijakan Publik di Auckland, Selandia Baru menanggapi kesan terkait unggulnya perempuan dalam menangani krisis ini.

“Saya pikir kesan inilah yang tentu saja menjadi provokasi melalui media di masa sekarang, maka saya pikir bagian dari alasan mengapa kita melihat perdebatan ini adalah karena perempuan masih agak baru sebagai pemimpin politik dan juga kita melihat peningkatan jumlah perempuan muda yang mengambil posisi kepemimpinan pada saat kita melihat lonjakan krisis yang signifikan, jadi saya tidak sepenuhnya setuju dengan argumen bahwa perempuan lebih baik dalam mengelola krisis, ini lebih tentang ada peningkatan jumlah perempuan selama krisis ini daripada apa yang kita lihat sebelum sebelumnya.” respon Curtin

Maka apa pelajaran yang bisa diambil laki-laki?  “Saya pikir sebagian alasan mengapa kita melihat para pemimpin politik perempuan melakukan ini dengan sangat baik dan bersikap positif selama ini adalah karena ada beberapa pemimpin laki-laki terkenal yang mengambil pendekatan yang cukup menghambat untuk mengelola krisis ini. Dan beberapa telah melaporkan memiliki pendekatan retoris yang lebih agresif, sementara sebagian dari mereka mengambil pendekatan hiper maskulin, dan kontras antara pemimpin perempuan yang tegas empatik dan pemimpin laki-laki hiper maskulin cukup ekstrim sehingga perbedaannya sangat terlihat .” lanjut Curtin.

Dia juga menanggapi peluang yang dimiliki perempuan untuk terlibat dalam rancah politik.

“Saya tentu berpikir bahwa efek panutan dari peran Merkel dalam krisis ini, atau Perdana Menteri kami Jacinda Ardern memberikan pesan simbolis kepada wanita muda bahwa politik dan manajemen krisis bukan suatu hal yang perlu ditakuti.

Tetapi saya juga berpikir bahwa rekonstruksi kebijakan yang akan terjadi di lingkungan pasca-COVID akan menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan untuk memikirkan kembali bagaimana mereka tidak hanya akan membangun kembali infrastruktur pemerintah tetapi juga infrastruktur sosial, sehingga ada peluang nyata bagi pembuat kebijakan untuk membayangkan kembali cara yang berbeda dari kinerja ekonomi  sebagai hasil kinerja yang telah dilakukan perempuan yang belum diakui dan dihargai sebelumnya.

(Sumber: DW News)

Leave a Reply

Your email address will not be published.