Pengalaman Sinematik Baru Dalam “Ghost In The Cell”

Sekolahnews – Rumah produksi Come and See Pictures mempersembahan karya anak bangsa terbaru dengan film ke-12 nya berjudul “Ghost in .the Cell”. Menggabungkan horor komedi yang sangat menghibur, namun juga menggelitik, film ini membawakan pesan yang sangat reflektif tentang situasi yang dialami banyak orang di Indonesia saat ini.
“Ghost in the Cell” mendapat sambutan positif saat tayang perdana di Berlin International Film Festival 2026. Film ini juga telah mendapat respon yang begitu tinggi di internasional dengan dibelinya hak penayangan film di 86 negara di berbagai benua. “Ghost in the Cell” sebelumnya juga telah tayang lebih dulu di 16 kota di Indonesai dan seluruh tiketnya terjual habis.
Joko Anwar, sang maestro horor dengan jenius menggabungkan berbagai genre, mulai dari komedi, horor hingga aksi, dia membuat karya yang mengangkat tema yang merefleksikan situsai Indonesia saat ini, mulai dari isu lingkungan, agama dan politik. “Karen situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri,” ungkap Joko.
Menurutnya, semangat harapn itu yang bisa membawa perubahan, bersama kolektivitas warga, seperti yang terjadi di filmnya saat para napi dan sipir akhirnya bekerja sama untuk melenyapkan ‘hantu’ yang sesungguhnya. Salah satu isu yang dibahas di film ini adalah tentang sistem yang korup. Serta bagaiman seorang koruptor menjalani ‘hukuman’ namun masih mendapat privilige untuk bisa berbuat semau mereka. Produser Tia Hasibuan menyebutkan, meski secara isu dan cerita “Ghost in the Cell” sangat Indonesia, tetapi di sisi lain juga sangat relevan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia.
“Saat world premiere di Belrinale, banyak dari penonton merasakan keresahan yang sama yang ada di film ini, tentang sistem yang korup dan semangat harapan terhadap perubahan menjadi lebih baik. Meski peristiwanya di Indonesia, tetapi seluruh aspek yang ada di film ini sangat universal, bahkan lelucon dan satir di film ini sangat direspon para penonton,” jelas produser Tia Hasibuan.
Abimana Aryasatya, yang memerankan Anggoro, menyebutkan dalam salah satu adegan aksi, ada tempo yang dimainkan. Abimana menceritakan, adegan aksi di film ini yang melibatkan ratusan orang yang diciptakan secara long take dan memerlukan kesiapan dan kematangan para aktor yang terlibat. “Secara keaktoran, sudah disiapkan arc character masing-masing. Anggoro, yang saya perankan, terikat dengan ibu dan keluarga. Di dalam penjara pun dia ciptakan keluarga yang dia pilih,” ungkapnya.
“Ghost in the Cell” dibintangi Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danag Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung dan Ho Yuhang.
“Ghost in the Cell” akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 16 April 2026.
